bisnis

Geopolitik Timur Tengah Memanas, Selat Hormuz Terganggu dan Cadangan BBM Hanya Aman 20 Hari

Rabu, 1 April 2026 | 15:54 WIB
Peta Selat Hormuz (tanda panah). Kapal tanker membawa minyak mentah dari Timur Tengah melintasi Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia. (Dok. Kreasi Dola AI)

FINANCE 24 JAM - Apakah Indonesia siap menghadapi guncangan energi global jika jalur utama minyak dunia tiba-tiba terganggu?

Mungkinkah stok BBM nasional hanya 20 hari cukup untuk meredam gejolak ekonomi jika krisis Selat Hormuz benar-benar berkepanjangan?

Penutupan Selat Hormuz Memicu Kekhawatiran Ketahanan Energi Nasional Indonesia

Ketegangan geopolitik global kembali menjadi perhatian setelah Iran dilaporkan menutup jalur pelayaran strategis Selat Hormuz yang menjadi salah satu arteri utama distribusi minyak dunia.

Baca Juga: Dugaan Insider Trading Dan Wash Sale Diselidiki, OJK Bersama Bareskrim Geledah Kantor Sekuritas PT MASI

Kondisi tersebut segera memicu kekhawatiran terhadap stabilitas energi berbagai negara, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah dan bahan bakar minyak.

Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi, menyebut potensi krisis ini dapat berubah menjadi “mimpi buruk” bagi pengambil kebijakan sektor energi nasional.

Menurutnya, tekanan terhadap sektor energi Indonesia akan meningkat jika gangguan distribusi minyak global berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.

Baca Juga: Menteri ESDM Tegaskan Harga BBM Subsidi Aman Hingga Lebaran Meski Gejolak Harga Minyak Dunia Meningkat

Stok BBM Nasional Dua Puluh Hari Jadi Alarm Kebijakan Energi

Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebelumnya memastikan cadangan BBM nasional berada pada tingkat aman untuk sekitar dua puluh hari.

Pernyataan tersebut disampaikan pada Selasa (3/3/2026) sebagai respons awal pemerintah terhadap meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia.

Namun Uchok menilai angka tersebut justru menjadi peringatan keras bagi pemerintah karena ketahanan energi nasional masih bergantung pada stabilitas pasokan impor.

“Yang jelas setelah 20 hari, Simon Aloysius Mantiri (Direktur Utama Pertamina) dan Bahlil Lahadalia siap-siap ‘disemprot’ alias dimarahi oleh Presiden,” ujar Uchok.

Baca Juga: Prabowo Subianto Percepat Energi Terbarukan: Target PLTS 100 Gigawatt dan Kendaraan Listrik

Ia juga memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak dunia dapat memicu kenaikan harga BBM domestik jika pemerintah gagal menambah pasokan dalam waktu singkat.

Halaman:

Tags

Terkini