• Sabtu, 18 April 2026

Eskalasi Geopolitik Timur Tengah Dinilai Buka Kelemahan Lama Struktur Ekonomi Secara Terbuka

Photo Author
Tim 24 Jam News, Finance 24 Jam
- Selasa, 3 Maret 2026 | 17:35 WIB
Ekonom senior, Prof. Anthony Budiawan. Ketegangan geopolitik dunia meningkatkan kewaspadaan pemerintah dan pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi internasional.  (Instagram.com @anthony_budiawan)
Ekonom senior, Prof. Anthony Budiawan. Ketegangan geopolitik dunia meningkatkan kewaspadaan pemerintah dan pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi internasional. (Instagram.com @anthony_budiawan)

FIANANCE 24 JAM - Mengapa ancaman ekonomi Indonesia justru berasal dari dalam negeri sendiri?

Apakah konflik global hanya mempercepat krisis yang sebenarnya sudah lama terbentuk?

Struktur Ekonomi Indonesia Dinilai Rentan Hadapi Guncangan Global Berkepanjangan

Di tengah meningkatnya konflik Iran dan Amerika Serikat, sejumlah ekonom menilai Indonesia menghadapi risiko ekonomi serius akibat kelemahan struktural domestik.

Baca Juga: Jusuf Kalla Soroti Dampak Perang Iran Terhadap Harga Minyak Dunia dan Ketahanan Energi Indonesia ke Depan

Prof. Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), menyebut eskalasi geopolitik hanya mempercepat tekanan yang sebenarnya sudah lama muncul.

Ia menyampaikan hsl tersebut lewat wawancara di akun youtube dengan topik "Eskalasi Perang Iran - Amerika, Bikin Ekonomi Indonesia Berbahaya?" di SinKos Studio.

Ia mengatakan narasi fundamental ekonomi kuat perlu diuji kembali karena indikator produktivitas, industrialisasi, dan ketahanan energi menunjukkan tren pelemahan bertahap.

Baca Juga: Investigasi Tambang Pulau Gebe Ungkap Risiko Konflik Kepentingan dalam Ekspansi Industri Nikel

Menurutnya, guncangan eksternal seperti konflik Timur Tengah dapat menjadi pemicu koreksi ekonomi besar apabila reformasi struktural tidak segera dilakukan.

Penurunan Kontribusi Industri Manufaktur Jadi Alarm Serius Perekonomian Nasional

Prof. Anthony menjelaskan sektor manufaktur Indonesia mengalami penurunan signifikan selama dua dekade terakhir sehingga daya tahan ekonomi ikut melemah.

Kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto yang pernah mencapai 30 persen kini tersisa sekitar 18 hingga 19 persen.

Baca Juga: Tumpang Pitu Banyuwangi Antara Mitos Kerajaan Blambangan dan Realitas Industri Tambang Emas Kelas Dunia

Penurunan tersebut berbanding terbalik dengan negara Asia Tenggara lain seperti Vietnam dan Malaysia yang terus meningkatkan produktivitas industri nasional.

Ia menilai Indonesia kehilangan momentum industrialisasi sebelum mencapai status negara maju sehingga disebut mengalami deindustrialisasi dini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X