FINANCE 24 JAM - Bagaimana dampak perpanjangan tenggat pelaporan pajak terhadap kepatuhan generasi produktif?
Apakah kebijakan ini meringankan beban administrasi atau justru membuat masyarakat semakin menunda pelaporan?
Perpanjangan Tenggat Spt Beri Ruang Adaptasi Bagi Wajib Pajak Produktif
Dikutip dari media Indonesiaraya.co.id, Perpanjangan batas waktu pelaporan SPT Tahunan menjadi kabar penting bagi kelompok usia produktif yang mendominasi basis wajib pajak aktif nasional.
Baca Juga: Harga Batu Bara Tembus 135 Dolar AS, Pemerintah Siapkan Kebijakan Bea Keluar Mulai April 2026 Ini
Kelompok pekerja profesional dan pelaku usaha sering menghadapi keterbatasan waktu sehingga tambahan periode pelaporan dinilai memberi ruang pengaturan administrasi lebih baik.
Menteri Keuangan RI (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kebijakan ini bertujuan memastikan kewajiban pajak tetap dapat dipenuhi tanpa tekanan teknis.
Ia menegaskan pemerintah tetap mengedepankan prinsip kepatuhan sukarela dengan menyediakan sistem yang lebih ramah bagi pengguna layanan pajak digital.
Baca Juga: Langkah Baru Prabowo Terapkan WFH ASN, Bisakah Kurangi Macet Jakarta dan Polusi Udara Signifikan
Menurutnya perpanjangan waktu diharapkan meningkatkan kualitas pelaporan bukan sekadar mengejar kuantitas pelaporan semata.
Data Pelaporan Pajak Tunjukkan Partisipasi Tinggi Meski Sistem Masih Beradaptasi
Hingga Senin (24/03/2026) jumlah pelaporan mencapai 8,87 juta SPT dari target 15 juta pelaporan wajib pajak orang pribadi nasional.
Angka tersebut menunjukkan partisipasi cukup tinggi meskipun implementasi sistem Coretax masih dalam tahap penyesuaian teknis di lapangan.
Baca Juga: APBN Indonesia Tetap Terkendali, Apa Faktor Penopang Stabilitas Fiskal Menurut Menkeu Purbaya
Sebanyak 16,72 juta akun wajib pajak juga telah diaktivasi sebagai indikator kesiapan masyarakat terhadap digitalisasi layanan pajak pemerintah.
Purbaya menyebut data tersebut menjadi dasar optimisme pemerintah terhadap keberhasilan reformasi administrasi perpajakan jangka panjang.