ekonomi

Pasar Saham Global Waspada Konflik Iran Bisa Picu Lonjakan Harga Energi dan Volatilitas Investasi

Rabu, 8 April 2026 | 22:00 WIB
Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia dengan risiko gangguan akibat konflik Iran dan Israel. (Dok. Kreasi Dola AI)

Dampak Konflik Terhadap Pasar Saham Mata Uang dan Investasi

DBS Group Research menyatakan konflik biasanya memicu aksi jual jangka pendek di pasar saham sebelum kembali ke fundamental ekonomi global.

Baca Juga: Evaluasi Menteri Ekonomi Dinilai Penting Jaga Momentum Pertumbuhan dan Stabilitas Ekonomi Tahun 2026

Investor cenderung memindahkan dana ke aset aman seperti dolar Amerika, yen Jepang, dan emas ketika risiko geopolitik meningkat signifikan.

DBS Group Research menilai kenaikan harga energi yang memicu inflasi global menjadi risiko terbesar bagi pasar saham dibanding dampak konflik jangka pendek.

Risiko Terhadap Ekonomi Indonesia dari Kenaikan Harga Energi Global

Indonesia dinilai bisa mendapat manfaat dari kenaikan harga komoditas energi, namun tekanan inflasi dan pelemahan rupiah menjadi risiko yang harus diwaspadai.

Baca Juga: The Harvest Salurkan 800 Paket Sedekah Ramadan Sambil Perkuat Strategi Bisnis Dessert Premium Indonesia

DBS Group Research mencatat cadangan minyak nasional sekitar 20 hari meningkatkan risiko kenaikan harga bahan bakar jika harga minyak global terus naik.

DBS Group Research menegaskan kinerja laba korporasi dan dividen akan menjadi faktor utama menjaga stabilitas Indeks Harga Saham Gabungan sepanjang 2026.

Sejumlah media internasional seperti Bloomberg sebelumnya melaporkan konflik kawasan Timur Tengah berulang kali memicu volatilitas harga minyak dan pasar keuangan global.****

Halaman:

Tags

Terkini