FINANCE 24 JAM - Apakah tren penurunan harga batu bara menjadi sinyal berakhirnya reli komoditas energi global tahun ini?
Bagaimana koreksi minyak dunia dan stabilisasi pasokan mengubah peta investasi sektor energi dalam waktu dekat?
Penurunan harga batu bara global pada Senin (16/3/2026) menjadi sorotan pelaku pasar setelah reli panjang sejak November 2024
Kini, akhirnya terkoreksi oleh kombinasi faktor geopolitik, harga minyak, dan normalisasi permintaan energi dunia, kotrak batu bara Newcastle Maret 2026 turun menjadi 132,3 Dolar AS per ton.
Baca Juga: Kisah Barbie Kumalasari Putus Komunikasi dengan Calon Suami Iran di Tengah Krisis Timur Tengah
Penurunan juga terjadi pada kontrak April 2026 ke 135 Dolar AS dan Mei 2026 ke 136,2 Dolar AS, mencerminkan tekanan jual komoditas energi global.
Koreksi Harga Energi Global Picu Penyesuaian Valuasi Komoditas Batu Bara
Penurunan harga batu bara terjadi bersamaan dengan melemahnya harga minyak mentah Brent ke 100,21 Dolar AS per barel atau turun 2,8 persen.
Harga minyak WTI juga terkoreksi ke 93,5 Dolar AS per barel setelah sebelumnya mengalami volatilitas akibat gangguan pasokan jalur distribusi energi global.
Menurut laporan, meredanya risiko gangguan Selat Hormuz membuat pelaku pasar mulai melakukan profit taking terhadap komoditas energi.
Kondisi tersebut mempersempit premi harga batu bara karena secara historis batu bara sering menjadi alternatif energi ketika harga minyak melonjak tajam.
Stabilitas Pasokan Tiongkok Mengurangi Panic Buying Batu Bara Global
Permintaan dari Tiongkok sebagai konsumen terbesar batu bara dunia mulai menunjukkan stabilisasi setelah pengiriman kontrak jangka panjang kembali normal.
Baca Juga: Pesan Prabowo ke Korporasi Tambang, SDA untuk Rakyat, Prioritas Energi Domestik Jadi Kebijakan Utama
Normalisasi pasokan ini mengurangi aksi pembelian spekulatif yang sebelumnya mendorong kenaikan harga batu bara pada awal Maret 2026.