• Sabtu, 18 April 2026

Di Tengah Rugi 20 JutabDolar AS, Tantiem Direksi Pelita Air Service Menuai Kritik

Photo Author
Tim 24 Jam News, Finance 24 Jam
- Rabu, 14 Januari 2026 | 11:05 WIB
Pesawat Pelita Air Service di bandara, di tengah sorotan publik atas kerugian korporasi yang mencapai Dolar AS 20,1 juta pada 2023.   (Facebook.com @Pelita Air)
Pesawat Pelita Air Service di bandara, di tengah sorotan publik atas kerugian korporasi yang mencapai Dolar AS 20,1 juta pada 2023. (Facebook.com @Pelita Air)

FINANCE 24 JAM - Apakah kerugian Dolar AS 20 juta menjadi sinyal kegagalan model bisnis Pelita Air Service?

Seberapa jauh tanggung jawab Direksi dan Komisaris dalam menjaga keberlanjutan korporasi milik negara?

Kerugian Besar Pelita Air Service Pada 2023

PT Pelita Air Service mencatat kerugian signifikan pada laporan keuangan tahun buku 2023.
Center for Budget Analysis (CBA) menyebut nilai kerugian mencapai Dolar AS 20.107.160 berdasarkan data yang dipublikasikan.

Baca Juga: Peringkat BBB Fitch Ratings untuk Obligasi Indonesia, Apa Dampaknya bagi Investor Global?

Kondisi tersebut terjadi meskipun korporasi telah mengoperasikan 12 unit pesawat dalam layanan penerbangan nasional.

Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis, Uchok Sky Khadafi, menyatakan kerugian tersebut tidak sebanding dengan capaian laba 2024.

Laba Pelita Air Service pada 2024 tercatat hanya Dolar AS 5.914.075 sehingga belum menutup kerugian tahun sebelumnya.

Baca Juga: KPP Madya Jakarta Utara Disorot, KPK Duga Rekayasa PBB Sebesar Rp59,3 Miliar lewat Kontrak Fiktif

Ia menilai tren tersebut perlu menjadi perhatian serius bagi manajemen dan pemegang saham.

Desakan Evaluasi Direksi dan Komisaris

Center for Budget Analysis secara terbuka mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap jajaran Direksi dan Komisaris Pelita Air Service.

Uchok Sky Khadafi menilai kinerja manajemen belum menunjukkan perbaikan fundamental pada bisnis inti penerbangan.

Baca Juga: Daftar Terkini Forbes 2026: 6 Sektor Penopang untuk Masuk Kelompok 10 Orang Terkaya Indonesia

Menurutnya, kerugian berulang mencerminkan lemahnya strategi dan pengendalian operasional korporasi.

Ia juga menyoroti pemberian tantiem dan remunerasi Direksi yang dinilai tidak sejalan dengan kondisi keuangan perusahaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X