FINANCE 24 JAM - Apakah krisis jalur pelayaran global bisa mengguncang stabilitas ekonomi Indonesia dalam hitungan minggu?
Mengapa gangguan di Selat Hormuz tiba-tiba memunculkan kekhawatiran besar terhadap APBN dan ketahanan energi nasional?
Gangguan lalu lintas kapal di Selat Hormuz sejak awal Maret 2026 memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas energi Indonesia, terutama karena jalur ini menjadi nadi perdagangan minyak dunia.
Penurunan drastis aktivitas pelayaran di kawasan tersebut membuat pemerintah Indonesia mempercepat pengalihan impor minyak ke Amerika Serikat sebagai langkah mitigasi jangka pendek.
Namun analis ekonomi politik Kusfiardi menilai langkah tersebut hanya solusi sementara dan belum menyentuh akar persoalan struktural ketahanan energi nasional.
“Langkah pengalihan impor ke Amerika Serikat adalah solusi jangka pendek yang cerdas secara taktis, tetapi tidak menjawab akar masalah ketergantungan energi Indonesia,” ujar Kusfiardi, Co-Founder FINE Institute, di Jakarta, Jumat (06/03/2026).
Baca Juga: Kasus Izin Tambang Emas Tumpang Pitu Diselidiki KPK, Publik Masih Menunggu Hasil Pendalaman Fakta
Dampak Krisis Selat Hormuz Terhadap Ketahanan Energi Nasional Indonesia Saat Ini
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global sehingga setiap gangguan langsung mempengaruhi pasokan energi internasional.
Menurut Kusfiardi, penurunan lalu lintas kapal sejak awal Maret 2026 menjadi sinyal bahwa gejolak geopolitik dapat segera memicu lonjakan harga minyak global.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia masih memiliki ketergantungan impor minyak yang signifikan sehingga guncangan eksternal dengan cepat berdampak pada stabilitas ekonomi domestik.
Baca Juga: Danantara Lakukan Audit Manajemen BUMN untuk Tingkatkan Efisiensi Bisnis dan Kontribusi Dividen
Kusfiardi menyebut pemerintah memperkirakan dampaknya sekitar 19 hingga 20 persen dari kebutuhan energi nasional, tetapi angka tersebut tetap menunjukkan kerentanan tinggi.
Situasi ini memperlihatkan bahwa ketahanan energi Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global yang berada di luar kendali pemerintah.
Artikel Terkait
Agreement on Reciprocal Trade Indonesia - AS Dinilai Kompleks Usai MA Batalkan Tarif Liberation Day Resmi
Serangan Drone Kilan Fujairah Picu Krisis Energi Baru, Indonesia Pertimbangkan Impor Migas dari AS
Langkah Besar Energi, Presiden Prabowo Dorong PLTS Nasional, Kendaraan Listrik, dan Kompor Listrik
Kasus Manipulasi IPO Terkuak, OJK dan Bareskrim Polri Selidiki Dugaan Pelanggaran Pasar Modal Libatkan Sekuritas
Bahlil Lahadalia Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik Hingga Lebaran Meski Harga Minyak Berfluktuasi
Program Makan Bergizi Gratis Dinilai Tepat Sasaran, Gus Miftah Minta Kesalahan Pelaksanaan Segera Diperbaiki
2 Kapal Minyak Indonesia Bersandar Di Hormuz, Pemerintah Siapkan Skenario Pasokan Energi Alternatif
Danantara Meninjau Seluruh BUMN, Langkah Strategis Perkuat Tata Kelola dan Nilai Ekonomi Negara
Kasus Tambang Emas Tumpang Pitu Banyuwangi Kembali Ramai Setelah Penyelidikan KPK Dimulai Lagi
Pendapatan Negara Tumbuh Namun Belanja Lebih Cepat, APBN Februari 2026 Alami Defisit Rp135,7 Triliun