• Sabtu, 18 April 2026

Defisit Transaksi Berjalan Jadi Sorotan, Apa Dampaknya Terhadap Nilai Tukar Rupiah Tahun 2026 Ini

Photo Author
Tim 24 Jam News, Finance 24 Jam
- Senin, 23 Maret 2026 | 09:50 WIB
Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan memaparkan analisis fundamental ekonomi Indonesia terkait risiko pelemahan rupiah dalam kajian Political Economy and Policy Studies terbaru. (Instagram.com @anthony_budiawan)
Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan memaparkan analisis fundamental ekonomi Indonesia terkait risiko pelemahan rupiah dalam kajian Political Economy and Policy Studies terbaru. (Instagram.com @anthony_budiawan)

FINANCE 24 JAM - Apakah rupiah benar-benar aman seperti klaim otoritas ekonomi selama ini?

Mengapa cadangan devisa besar justru dinilai belum cukup menjamin ketahanan nilai tukar Indonesia?

Fundamental Ekonomi Indonesia Dipertanyakan di Tengah Tekanan Nilai Tukar Rupiah

Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menyentuh kisaran Rp17.000 per dolar AS pada awal 2026, meskipun pemerintah dan Bank Indonesia menilai fundamental ekonomi tetap kuat.

Baca Juga: Makna Pertemuan Prabowo dan Megawati: Silaturahmi Politik Elite untuk Stabilitas Nasional Menjelang Lebaran

Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan, menyatakan struktur ekonomi Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar yang berpotensi melemahkan stabilitas rupiah dalam jangka panjang.

Anthony Budiawan mengatakan fundamental nilai tukar rupiah rapuh karena indikator struktural ekonomi, termasuk kemiskinan, defisit eksternal, serta ketergantungan pembiayaan utang luar negeri masih tinggi.

Cadangan Devisa Besar Belum Tentu Cerminkan Kekuatan Fundamental Ekonomi Nasional

Cadangan devisa Indonesia tercatat sekitar 150 miliar Dolar AS per akhir Februari 2026, yang sering diklaim sebagai indikator ketahanan ekonomi nasional.

Baca Juga: Rencana Impor 105000 Kendaraan Koperasi Merah Putih Picu Pertanyaan Efektivitas Investasi Danantara

Namun Anthony Budiawan menilai cadangan devisa tersebut tidak berasal dari surplus transaksi berjalan, melainkan terbentuk di tengah defisit transaksi berjalan lebih dari 113 miliar Dolar AS periode 2015–2025.

Anthony Budiawan menegaskan kondisi tersebut menunjukkan ketahanan eksternal Indonesia masih lemah karena cadangan devisa lebih banyak ditopang pembiayaan utang luar negeri sektor publik.

Lonjakan Utang Luar Negeri Dinilai Jadi Risiko Stabilitas Rupiah

Data PEPS menunjukkan cadangan devisa hanya naik sekitar 44,6 miliar Dolar AS sepanjang 2014–2025, sementara utang luar negeri meningkat hingga 139,6 miliar Dolar AS.

Baca Juga: Rencana Impor 105000 Kendaraan Koperasi Merah Putih Picu Pertanyaan Efektivitas Investasi Danantara

Anthony Budiawan menjelaskan sekitar 78 persen peningkatan utang berasal dari sektor publik termasuk pemerintah dan otoritas moneter yang menopang stabilitas nilai tukar.

Anthony Budiawan menyebut ketergantungan pada utang eksternal membuat stabilitas rupiah rentan terhadap perubahan sentimen investor global serta potensi capital outflow.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X