• Sabtu, 18 April 2026

Defisit Transaksi Berjalan Jadi Sorotan, Apa Dampaknya Terhadap Nilai Tukar Rupiah Tahun 2026 Ini

Photo Author
Tim 24 Jam News, Finance 24 Jam
- Senin, 23 Maret 2026 | 09:50 WIB
Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan memaparkan analisis fundamental ekonomi Indonesia terkait risiko pelemahan rupiah dalam kajian Political Economy and Policy Studies terbaru. (Instagram.com @anthony_budiawan)
Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan memaparkan analisis fundamental ekonomi Indonesia terkait risiko pelemahan rupiah dalam kajian Political Economy and Policy Studies terbaru. (Instagram.com @anthony_budiawan)

Tren Pelemahan Rupiah Jangka Panjang Jadi Indikator Masalah Struktural Ekonomi

Rupiah tercatat melemah dari rata-rata Rp11.800 per dolar AS pada 2014 menjadi sekitar Rp17.000 pada 2026 atau turun hampir 50 persen.

Baca Juga: Prabowo Ungkap Potensi Pemborosan 30 Persen APBN, Reformasi Belanja Negara Jadi Fokus Kebijakan Fiskal

Anthony Budiawan menyatakan depresiasi jangka panjang tersebut mencerminkan kelemahan fundamental ekonomi yang belum terselesaikan secara struktural.

Anthony Budiawan juga menyoroti tingkat kemiskinan Indonesia yang menurut standar internasional negara berpendapatan menengah atas mencapai sekitar 68,3 persen populasi.

Risiko Likuiditas Utang Negara Bisa Picu Tekanan Pasar Keuangan

Pemerintah kerap menyebut dominasi utang jangka panjang sebagai indikator keamanan fiskal, namun Anthony Budiawan menilai pandangan tersebut kurang tepat secara ekonomi.

Baca Juga: Kasus Kekerasan Aktivis Andrie Yunus, Prabowo Pastikan Hadir Lindungi Kebebasan Sipil dan Hak Warga

Anthony Budiawan menjelaskan surat utang negara dapat dijual investor kapan saja sehingga berpotensi memicu tekanan likuiditas tanpa menunggu jatuh tempo.

Anthony Budiawan memperingatkan penghentian pembelian obligasi negara oleh investor dapat meningkatkan tekanan rupiah secara drastis dalam waktu singkat.

Sebagai latar belakang, sejumlah media ekonomi nasional sebelumnya melaporkan volatilitas rupiah meningkat akibat tekanan global serta ketidakpastian pasar keuangan internasional.

Baca Juga: Kiprah Michael Bambang Hartono, Dari Krisis Djarum Hingga Sukses Bangun Korporasi Perbankan Digital

Dalam dua bulan pertama 2026 cadangan devisa turun sekitar 4,6 miliar Dolar AS dari 156,5 miliar Dolar AS menjadi 151,9 miliar Dolar AS.

Anthony Budiawan menyimpulkan risiko utama bukan lagi kemungkinan krisis rupiah, melainkan waktu serta kondisi yang dapat memicu tekanan tersebut.****

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X