ekonomi

Analis Kritik Strategi Energi . Saat Krisis Selat Hormuz, Ungkap Risiko Besar Ketergantungan Impor Minyak

Rabu, 1 April 2026 | 15:53 WIB
Ilustrasi Peta jalur pelayaran Selat Hormuz yang strategis bagi perdagangan minyak dunia, krisis di kawasan ini memicu lonjakan harga energi dan berpotensi menekan ekonomi Indonesia. (Dok. Kreasi Dola AI)

FINANCE 24 JAM  - Apakah krisis jalur pelayaran global bisa mengguncang stabilitas ekonomi Indonesia dalam hitungan minggu?

Mengapa gangguan di Selat Hormuz tiba-tiba memunculkan kekhawatiran besar terhadap APBN dan ketahanan energi nasional?

Gangguan lalu lintas kapal di Selat Hormuz sejak awal Maret 2026 memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas energi Indonesia, terutama karena jalur ini menjadi nadi perdagangan minyak dunia.

 Baca Juga: Distribusi Energi Dipantau Digital, Pertamina Pastikan Pasokan BBM dan LPG Tetap Aman Jelang Idulfitri 2026

Penurunan drastis aktivitas pelayaran di kawasan tersebut membuat pemerintah Indonesia mempercepat pengalihan impor minyak ke Amerika Serikat sebagai langkah mitigasi jangka pendek.

Namun analis ekonomi politik Kusfiardi menilai langkah tersebut hanya solusi sementara dan belum menyentuh akar persoalan struktural ketahanan energi nasional.

“Langkah pengalihan impor ke Amerika Serikat adalah solusi jangka pendek yang cerdas secara taktis, tetapi tidak menjawab akar masalah ketergantungan energi Indonesia,” ujar Kusfiardi, Co-Founder FINE Institute, di Jakarta, Jumat (06/03/2026).

Baca Juga: Kasus Izin Tambang Emas Tumpang Pitu Diselidiki KPK, Publik Masih Menunggu Hasil Pendalaman Fakta

Dampak Krisis Selat Hormuz Terhadap Ketahanan Energi Nasional Indonesia Saat Ini

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global sehingga setiap gangguan langsung mempengaruhi pasokan energi internasional.

Menurut Kusfiardi, penurunan lalu lintas kapal sejak awal Maret 2026 menjadi sinyal bahwa gejolak geopolitik dapat segera memicu lonjakan harga minyak global.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia masih memiliki ketergantungan impor minyak yang signifikan sehingga guncangan eksternal dengan cepat berdampak pada stabilitas ekonomi domestik.

Baca Juga: Danantara Lakukan Audit Manajemen BUMN untuk Tingkatkan Efisiensi Bisnis dan Kontribusi Dividen

Kusfiardi menyebut pemerintah memperkirakan dampaknya sekitar 19 hingga 20 persen dari kebutuhan energi nasional, tetapi angka tersebut tetap menunjukkan kerentanan tinggi.

Situasi ini memperlihatkan bahwa ketahanan energi Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global yang berada di luar kendali pemerintah.

Halaman:

Tags

Terkini