FINANCE24JAM.COM - Apakah benar Amerika Serikat mulai melunak terhadap Tiongkok setelah Donald Trump kembali memimpin?
Ataukah dunia sedang menyaksikan strategi baru yang lebih taktis dalam persaingan ekonomi dan teknologi global?
Strategi Transaksional Trump Membentuk Ulang Peta Persaingan Global Baru
Kebijakan Presiden ke-47 Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap Tiongkok kembali menjadi sorotan global sejak awal masa jabatan barunya pada Senin (20/1/2025).
Baca Juga: 7 Korporasi Tambang Sudah Ditindak, Publik Soroti Transparansi Penertiban Kawasan Hutan Maluku Utara
Narasi “menyerah” yang beredar di sejumlah platform digital dinilai menyederhanakan dinamika geopolitik yang sebenarnya kompleks dan penuh perhitungan strategis.
Pendekatan “America First” yang diusung Trump tetap berorientasi pada negosiasi tarif, proteksi industri domestik, serta penataan ulang rantai pasok global yang menguntungkan Amerika Serikat.
Menurut laporan Reuters, kebijakan tarif impor terhadap produk teknologi Tiongkok masih menjadi instrumen utama negosiasi perdagangan Washington dengan Beijing.
Media tersebut mencatat nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai lebih dari 575 miliar Dolar AS pada 2025, menunjukkan ketergantungan ekonomi yang masih kuat.
Ketergantungan Ekonomi Dua Raksasa Membatasi Konflik Terbuka Berkepanjangan
Presiden Tiongkok Xi Jinping menegaskan stabilitas perdagangan global sebagai prioritas utama dalam forum ekonomi Asia pada Rabu (18/12/2025).
Pernyataan tersebut sejalan dengan analisis yang menyebut kedua negara berusaha menjaga pertumbuhan ekonomi global tetap stabil.
Baca Juga: Rencana Akuisisi PNM oleh Pemerintah Disorot, Subsidi Bunga KUR Rp14 Triliun Dinilai Belum Efektif
Ketergantungan rantai pasok global, khususnya sektor manufaktur dan semikonduktor, membuat kebijakan ekstrem berisiko memicu gejolak pasar internasional.
Menurut data Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization, perdagangan global teknologi tinggi didominasi oleh interaksi Amerika Serikat dan Tiongkok.