FINANCE 24 JAM - Mengapa tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Donald Trump kembali merosot tajam di tengah tekanan ekonomi global?
Bagaimana penurunan popularitas ini dapat memengaruhi stabilitas politik Amerika Serikat menjelang agenda politik penting berikutnya?
Penurunan Approval Rating Trump Picu Kekhawatiran Partai Republik Menjelang Pemilu
Tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump turun signifikan pada Maret 2026 menurut kompilasi survei Reuters/Ipsos, CNN, Fox News, dan Gallup.
Baca Juga: Pengawasan BPR Diperketat, OJK Pastikan Stabilitas Sistem Keuangan dan Keamanan Dana Masyarakat
Data Reuters/Ipsos menunjukkan approval rating Trump turun menjadi 36 persen dari sebelumnya 40 persen dalam satu pekan, mencerminkan tekanan opini publik yang meningkat.
Survei CNN juga menunjukkan angka persetujuan 38 persen dan ketidakpuasan mencapai 60 persen, memperlihatkan tren penurunan kepercayaan publik terhadap kepemimpinan nasional.
Tekanan Biaya Hidup Jadi Faktor Utama Penurunan Popularitas Presiden Trump
Isu ekonomi menjadi faktor dominan karena hanya 25 persen responden menyetujui kebijakan Trump dalam menangani biaya hidup yang meningkat sepanjang awal 2026.
Baca Juga: Pemerintah Percepat Reformasi Subsidi LPG dan Digitalisasi Distribusi Demi Ketahanan Energi Nasional
Penilaian terhadap pengelolaan ekonomi nasional juga hanya mencapai 29 persen, lebih rendah dibandingkan tingkat kepercayaan publik kepada pemerintahan sebelumnya pada periode awal jabatan.
Amanda Makki, konsultan politik Partai Republik dan pengacara, mengatakan penting bagi rakyat mengetahui presiden memahami kesulitan mereka dan bantuan sedang diproses pemerintah.
Makki juga menegaskan bahwa tetap ada oposisi publik signifikan terhadap kebijakan pemerintah meskipun komunikasi politik terus dilakukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Kebijakan Militer Timur Tengah Pengaruhi Persepsi Keamanan Nasional Amerika Serikat
Intervensi militer Amerika Serikat ke Iran pada akhir Februari 2026 menjadi titik balik sentimen publik terhadap kebijakan keamanan nasional pemerintah.
Sebanyak 46 persen responden menilai konflik tersebut berpotensi membuat Amerika Serikat menjadi kurang aman dalam jangka panjang menurut agregasi beberapa survei nasional.
Artikel Terkait
Kisah Indonesia Raya, Media Legendaris yang Jadi Inspirasi Jurnalisme Investigasi Indonesia Hingga Kini
Pernyataan Menkeu Soal APBN Jadi Sorotan Ini Dampaknya Bagi Stabilitas Ekonomi Indonesia ke Depan
Target 15 Juta SPT 2026, Perpanjangan Waktu Tingkatkan Kepatuhan Pajak Masyarakat Produktif
OJK Sambut Kebijakan Kemenkeu Tambah Dana Perbankan, Bisa Redam Tekanan Likuiditas Akibat Kenaikan Yield
Ekonomi Indonesia 2026 Antara Optimisme Pemerintah Dan Proyeksi Moderat OECD Ini Data Lengkap Perbandingannya Terbaru
Pernyataan Menkeu Soal APBN Jadi Sorotan Ini Dampaknya Bagi Stabilitas Ekonomi Indonesia ke Depan
Analisis SBY Tentang Harga Minyak Dunia dan Ketahanan Ekonomi di Tengah Konflik Timur Tengah
Transisi Energi, INDEF Ingatkan Risiko Krisis Fiskal Jika Indonesia Terlambat Lakukan Elektrifikasi Transportasi
Sinergi Penegak Hukum Ungkap Kasus BPR Malang, Upaya Jaga Kepercayaan Publik Terhadap Perbankan
Jepang Berani Lepas Cadangan Minyak Saat Pasar Energi Global Diliputi Ketidakpastian Besar Tahun Ini