FINANCE 24 JAM - Jika harga minyak melonjak ke level ekstrem, apakah dampaknya hanya terasa di pasar energi global?
Atau justru akan langsung memukul biaya hidup, harga pangan, dan stabilitas ekonomi masyarakat produktif dunia?
Peringatan CEO Larry Fink dari korporasi investasi global BlackRock mengenai potensi harga minyak 150 Dolar AS memicu perhatian pelaku pasar.
Baca Juga: Mentan Pastikan Cadangan Beras 28 Juta Ton, Ketahanan Pangan Semakin Kuat Jelang Lebaran 2026
Ia menilai lonjakan biaya energi berpotensi menciptakan efek domino terhadap sektor transportasi, manufaktur, hingga konsumsi rumah tangga global.
Lonjakan Harga Minyak Bisa Picu Kenaikan Biaya Hidup Global
Larry Fink menyebut harga minyak yang tinggi akan meningkatkan biaya logistik dan transportasi yang akhirnya mendorong kenaikan harga barang konsumsi.
Kenaikan biaya distribusi dinilai dapat memicu inflasi pangan global karena rantai pasok sangat bergantung pada energi fosil.
Baca Juga: Cadangan Pangan Melimpah Hingga 11 Bulan, Pemerintah Siap Hadapi Lonjakan Konsumsi Idulfitri 2026
Kondisi ini dinilai paling terasa bagi kelompok usia produktif yang memiliki pengeluaran rutin tinggi dan sensitif terhadap inflasi.
Industri Manufaktur Hadapi Tekanan Biaya Produksi dan Margin Usaha
Harga energi yang mahal berpotensi meningkatkan biaya bahan baku dan operasional industri menurut analisis Fink.
Kenaikan biaya produksi dapat menekan margin keuntungan korporasi sehingga berpotensi menahan ekspansi bisnis dan perekrutan tenaga kerja.
Risiko tersebut dapat memperlambat pertumbuhan sektor industri yang menjadi penggerak utama ekonomi global.
Konsumsi Rumah Tangga Terancam Turun Akibat Pendapatan Riil Tertekan
Larry Fink menilai lonjakan harga energi akan menurunkan pendapatan riil masyarakat karena pengeluaran rutin meningkat.