FINANCE 24 JAM - Mengapa isu reshuffle kabinet kembali menguat justru saat stabilitas politik relatif terjaga?
Apakah perombakan kabinet 2026 menjadi instrumen konsolidasi kekuasaan Presiden Prabowo untuk memastikan loyalitas, atau murni langkah profesional menghadapi tantangan ekonomi global?
Isu reshuffle kabinet awal 2026 dinilai tidak hanya terkait evaluasi kinerja, tetapi juga konsolidasi politik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjelang agenda strategis nasional.
Baca Juga: Pernyataan Tegas Kapolri Listyo Sigit Prabowo di DPR Warnai Diskursus Revisi UU Polri Nasional
Reshuffle dan Dinamika Koalisi Pemerintahan
Pengamat menilai dinamika internal partai koalisi turut memengaruhi wacana reshuffle.
Golkar dan PKB disebut tengah melakukan penyesuaian kepemimpinan internal.
Reposisi kader di kabinet dinilai sebagai bagian menjaga keseimbangan politik.
Baca Juga: Kapolri Tolak Menteri Kepolisian, Tegaskan Polri Di Bawah Presiden Sesuai TAP MPR Reformasi 2000
Presiden Prabowo dikenal fleksibel namun tegas dalam menjaga stabilitas.
Beberapa pergeseran minor pada 2025 menjadi preseden penting, langkah tersebut dinilai berhasil meredam gesekan internal koalisi.
Prediksi Masuknya Figur Profesional dan Teknokrat
Media mainstream mencatat munculnya nama Budisatrio Djiwandono untuk penguatan diplomasi.
Baca Juga: ESDM Siapkan Pencabutan 45 Izin Tambang Karena Tak Patuhi Kewajiban Reklamasi Lingkungan
Angga Raka Prabowo disebut berpeluang memperkuat sektor komunikasi dan transformasi digital.
Di bidang ekonomi, nama Juda Agung mengemuka sebagai figur teknokrat berpengalaman.