FINANCE 24 JAM - Mampukah industri asuransi dan dana pensiun menjaga stabilitas jika batas investasi saham dinaikkan hingga 20 persen per emiten?
Bagaimana korporasi memastikan fleksibilitas investasi tidak menggerus solvabilitas dan ketahanan dana jangka panjang pemegang polis serta peserta pensiun?
Rencana kenaikan batas investasi saham bagi industri asuransi dan dana pensiun dinilai memberi ruang optimalisasi imbal hasil, namun tetap membutuhkan disiplin manajemen risiko yang kuat.
Baca Juga: Gejolak IHSG: Presiden Prabowo Marah, Evaluasi Bursa, dan Sorotan Anomali Saham di Pasar Modal
IFG Progress menilai kebijakan ini berpotensi memperkuat peran investor institusional dalam pasar modal, tetapi harus dijalankan dengan kerangka tata kelola yang ketat.
Kepala IFG Progress Ibrahim Kholilul Rohman menegaskan fleksibilitas investasi harus diimbangi pengawasan, transparansi, dan pengelolaan risiko yang berbasis profil liabilitas.
Batas Investasi Saham Tinggi Berpotensi Tingkatkan Konsentrasi Risiko Pasar
Peningkatan batas investasi saham hingga 20 persen membuka peluang konsentrasi risiko lebih besar pada saham tertentu di tengah volatilitas pasar berkembang.
Baca Juga: Aksi Protes Palestina di Australia Meluas ke Puluhan Kota Saat Presiden Israel Isaac Herzog Knjungan
Meskipun saham berkapitalisasi besar relatif stabil, sentimen nonfundamental tetap dapat memengaruhi kinerja pasar secara signifikan.
Ibrahim menyatakan penetapan kriteria saham harus mempertimbangkan kualitas tata kelola emiten, stabilitas kinerja keuangan, serta transparansi informasi secara menyeluruh.
Perbedaan Profil Liabilitas Tentukan Strategi Investasi Setiap Institusi Keuangan
Setiap korporasi asuransi dan dana pensiun memiliki karakteristik liabilitas berbeda yang menentukan strategi alokasi investasi dan kebutuhan likuiditas.
Baca Juga: KPK Soroti Risiko Korupsi Industri Nikel dari Perizinan Tambang Hingga Ekspor Berdasarkan Kajian
Asuransi umum cenderung konservatif karena kewajiban jangka pendek dan kebutuhan likuiditas tinggi untuk pembayaran klaim.
Asuransi jiwa memiliki ruang lebih besar memanfaatkan saham sebagai sumber pertumbuhan aset jangka panjang, namun tetap mendahulukan penempatan aset berimbal hasil pasti.
Artikel Terkait
Danantara Diusulkan Mampu Tekan Biaya Produksi dan Stabilkan Bahan Baku Industri Tekstil Nasional
DJP Bongkar Skema Pajak Baja 2015–2019, 40 Bisnis Sembunyikan Omzet dan Hindari Kewajiban PPN
29 Tambang Dievaluasi, 47 Beroperasi Sesuai Regulasi Demi Lingkungan dan Ekonomi Lokal
Kasus Pajak Banjarmasin Memanas, KPK Dalami 12 Korporasi Terkait Rangkap Jabatan Pejabat Pajak
KPK Didesak Beri Kejelasan Hukum Direktur PT Finnet dalam Kasus Korupsi EDC BRI Rp744 Miliar
Jeff Bezos dan Transformasi Washington Post 2013-2026 Ungkap Strategi Digital Industri Media
Rp40,5 Miliar Disita dari Safe House Skandal Korupsi Bea Cukai dan Enam Tersangka Ditetapkan KPK
KPK Soroti Risiko Korupsi Industri Nikel dari Perizinan Tambang Hingga Ekspor Berdasarkan Kajian
Aksi Protes Palestina di Australia Meluas ke Puluhan Kota Saat Presiden Israel Isaac Herzog Knjungan
Gejolak IHSG: Presiden Prabowo Marah, Evaluasi Bursa, dan Sorotan Anomali Saham di Pasar Modal