• Sabtu, 18 April 2026

Danantara Diusulkan Mampu Tekan Biaya Produksi dan Stabilkan Bahan Baku Industri Tekstil Nasional

Photo Author
Tim 24 Jam News, Finance 24 Jam
- Rabu, 11 Februari 2026 | 11:30 WIB
Ilustrasi industri tekstil dan produk tekstil. Industri tekstil Indonesia masih menyerap hampir 4 juta tenaga kerja meski menghadapi tekanan biaya produksi dan stagnasi ekspor selama satu dekade terakhir. (Dok. Kreasi Dola AI)
Ilustrasi industri tekstil dan produk tekstil. Industri tekstil Indonesia masih menyerap hampir 4 juta tenaga kerja meski menghadapi tekanan biaya produksi dan stagnasi ekspor selama satu dekade terakhir. (Dok. Kreasi Dola AI)

FINANCE 24 JAM - Seberapa besar peran industri tekstil terhadap pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja Indonesia di tengah persaingan global?

Akankah strategi kebijakan baru pemerintah mampu mengangkat kembali sektor padat karya yang menopang jutaan pekerja dan devisa nasional?

Kontribusi Industri Tekstil Terhadap Ekonomi dan Tenaga Kerja Nasional

Industri tekstil dan produk tekstil merupakan sektor padat karya strategis yang menyerap sekitar 3,76 hingga 3,97 juta tenaga kerja hingga Agustus 2024.

Baca Juga: Prabowo Bertemu 5 Konglomerat Selama 4 Jam Bahas Indonesia Incorporated dan Penguatan Ekonomi

Sektor ini berkontribusi sekitar 20,51 persen terhadap tenaga kerja manufaktur serta menyumbang 6 hingga 7 persen ekspor nonmigas nasional.

Pertumbuhan industri TPT tercatat 4,37 persen pada kuartal IV-2025 dan mencapai 5,39 persen pada tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pendiri dan Wakil Ketua Majelis Pertimbangan BPP KAPMI (Kamar Dagang Pengusaha Muda Indonesia), Tody Ardiansyah Prabu menilai sektor tekstil tetap vital bagi stabilitas ekonomi dan penyerapan tenaga kerja nasional.

Baca Juga: Strategi Danantara Buka Semua Bank dan Investasi Saham Harian, Perkuat Pembiayaan Proyek Energi

Tantangan Struktur Biaya Produksi Dan Ketergantungan Bahan Baku Impor

Biaya tenaga kerja meningkat dalam sepuluh tahun terakhir tanpa diimbangi peningkatan produktivitas, pelatihan, dan dukungan teknologi industri.

Ketergantungan pada impor bahan baku membuat industri rentan terhadap fluktuasi nilai tukar serta harga global serat sintetis dan kapas.

Tarif energi dan logistik yang relatif tinggi turut menekan efisiensi produksi dan mengurangi daya saing harga produk tekstil Indonesia.

Baca Juga: Tata Kelola Pasar Disorot Global, IHSG Turun Setelah Outlook Negatif Dan Ancaman Downgrade MSCI Menguat

Tody Ardiansyah Prabu menyebut reformasi struktural diperlukan agar industri tekstil tidak terjebak biaya tinggi dan stagnasi ekspor.

Strategi Pemerintah Dorong Reindustrialisasi Dan Target Pertumbuhan Nasional

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai delapan persen pada 2028 hingga 2029 dengan manufaktur sebagai penggerak utama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X