investasi

Transisi Energi, INDEF Ingatkan Risiko Krisis Fiskal Jika Indonesia Terlambat Lakukan Elektrifikasi Transportasi

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:45 WIB
Ekonom Senior INDEF Prof Didik J Rachbini Ph.D. Kajian ekonomi terbaru menegaskan pentingnya reformasi subsidi energi agar manfaatnya lebih adil bagi seluruh lapisan masyarakat. (Dok. Kreasi Dola AI)

FINANCE 24 JAM - Mengapa subsidi BBM justru lebih banyak dinikmati kelompok mampu dibanding masyarakat bawah?

Bisakah kendaraan listrik menjadi solusi agar subsidi energi lebih adil dan tepat sasaran?

Ketimpangan Konsumsi Subsidi Energi Jadi Sorotan Kebijakan Ekonomi Nasional

Ketimpangan distribusi subsidi energi menjadi perhatian ekonom karena manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Baca Juga: Krisis Energi Global 2026 Memanas, SBY Dukung Pemerintah Jaga Stabilitas Harga BBM Nasional

Data kajian INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) menunjukkan konsumsi pertalite lebih banyak digunakan kelompok ekonomi atas dibanding masyarakat bawah.

Prof Didik J Rachbini Ph.D, Ekonom INDEF, mengatakan sekitar 63 persen subsidi dinikmati kelompok atas.

Sementara kelompok masyarakat ekonomi bawah hanya menikmati sekitar 37 persen dari total konsumsi energi bersubsidi nasional.

Baca Juga: APBN Indonesia Tetap Terkendali, Apa Faktor Penopang Stabilitas Fiskal Menurut Menkeu Purbaya

Kendaraan Listrik Disebut Solusi Kebijakan Subsidi Lebih Tepat Sasaran

Transformasi kendaraan listrik dinilai dapat menjadi solusi memperbaiki efektivitas kebijakan subsidi energi agar lebih tepat sasaran.

Didik J Rachbini menyatakan konversi kendaraan BBM ke listrik dapat mengurangi ketergantungan subsidi sekaligus memperbaiki struktur belanja negara.

Ia menyebut kendaraan listrik mampu menekan subsidi energi hingga 85 persen berdasarkan hasil kajian INDEF.

Baca Juga: Target Pemerintah di Atas 5 Persen, OECD Justru Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh Lebih Lambat

Menurutnya reformasi energi harus diarahkan tidak hanya pada efisiensi fiskal tetapi juga keadilan distribusi manfaat subsidi.

Lonjakan Harga Minyak Global Picu Risiko Krisis Energi Regional

Harga minyak dunia yang meningkat akibat konflik geopolitik memperbesar risiko krisis energi di kawasan Asia termasuk Indonesia.

Halaman:

Tags

Terkini