FINANCE 24 JAM - Apakah Indonesia akan terus mengekspor bauksit mentah dengan nilai rendah di tengah cadangan mineral yang melimpah?
Seberapa besar lonjakan nilai ekonomi yang bisa diperoleh jika bauksit diolah hingga menjadi aluminium bernilai tinggi?
Indonesia memasuki fase krusial hilirisasi bauksit dengan potensi nilai tambah ekonomi yang diproyeksikan mencapai Dolar AS 3,8 triliun dari pengolahan alumina hingga aluminium.
Baca Juga: Tekanan Ekonomi Belum Pulih, Target Pajak 2026 Sebesar Rp 2.357,7 Triliun Dinilai Berisiko
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan harga bauksit mentah hanya sekitar Dolar AS 40 per ton, namun melonjak menjadi Dolar AS 2.900 per ton setelah diolah menjadi aluminium.
Pemerintah menilai hilirisasi menjadi instrumen strategis untuk mendorong industrialisasi, memperkuat struktur ekonomi, dan mengurangi ketergantungan ekspor bahan mentah.
Lonjakan Nilai Tambah Bauksit Dari Hulu Hingga Hilir
Indonesia memiliki sumber daya bauksit sebesar 7,78 miliar ton yang tersebar di berbagai wilayah penghasil mineral nasional.
Baca Juga: Banjir Dua Pekan Lumpuhkan Ekonomi Kalsel, Aspirasi Mahasiswa Menggema di Hadapan Wapres
Dengan volume tersebut, potensi produksi alumina diperkirakan mencapai 2,59 miliar ton dengan nilai ekonomi sekitar Rp17.435 triliun berdasarkan kurs Rp16.834 per Dolar AS.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno menyatakan hilirisasi menjadi kunci peningkatan nilai tambah dan daya saing industri mineral nasional.
Menurut Tri Winarno, pengolahan bauksit memberikan multiplier effect signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan industri turunan.
Baca Juga: PHK Citigroup Jadi Tahap Awal Target 20.000 Posisi Hingga 2026, Restrukturisasi Berlanjut
Peran Smelter Alumina dalam Strategi Industrialisasi Nasional
Pemerintah mendorong pengembangan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) sebagai fondasi industri aluminium dalam negeri.
Fasilitas ini dirancang untuk memastikan ketersediaan bahan baku industri logam ringan bagi sektor transportasi, konstruksi, dan energi terbarukan.
Artikel Terkait
PDB Naik, Pengangguran Tetap Tinggi: Mengurai Paradoks Ekonomi Indonesia Versi Data IMF dan BPS
Dari Impor ke Surplus, RDMP Kilang Balikpapan Dorong Swasembada Solar dan Energi Nasional 2026
Dari Balikpapan, Presiden Prabowo Tekankan Reformasi BUMN demi Kelola Kekayaan Negara
Forbes Awal 2026 Ungkap Pergeseran Kekayaan, Rp 148 Triliun Antar Pengusaha Jember Naik Peringkat
Angka Pajak Disulap: KPK Ungkap Selisih PBB hingga Sebesar Rp59,3 Miliar di KPP Madya Jakarta Utara
Fitch Tetapkan Peringkat BBB Obligasi Indonesia Berdenominasi Dolar AS, Stabil di Tengah Risiko Global
Di Tengah Rugi 20 JutabDolar AS, Tantiem Direksi Pelita Air Service Menuai Kritik
Banjir Dua Pekan Lumpuhkan Ekonomi Kalsel, Aspirasi Mahasiswa Menggema di Hadapan Wapres
PHK Citigroup Jadi Tahap Awal Target 20.000 Posisi Hingga 2026, Restrukturisasi Berlanjut
Tekanan Ekonomi Belum Pulih, Target Pajak 2026 Sebesar Rp 2.357,7 Triliun Dinilai Berisiko