FINANCE 24 JAM - Apakah pembengkakan utang Amerika Serikat menjadi sinyal runtuhnya tatanan moneter global yang telah menopang ekonomi dunia selama puluhan tahun terakhir?
Jika Dolar AS kehilangan dominasinya, sejauh mana dampaknya terhadap stabilitas keuangan global dan ketahanan ekonomi negara berkembang seperti Indonesia?
Utang Amerika Serikat yang menembus sekitar 38 triliun Dolar AS kembali menjadi sorotan setelah Ray Dalio menyebutnya sebagai fase akhir siklus ekonomi global.
Baca Juga: Rosan Roeslani Bantah Isu Ganti Direksi Empat Bank BUMN, Soroti Stabilitas Perbankan Nasional
Dalio adalah pendiri Bridgewater Associates, salah satu pengelola dana lindung nilai terbesar dunia, yang dikenal konsisten mengkaji pola krisis lintas abad.
Menurut Dalio, lonjakan utang, defisit fiskal kronis, dan pencetakan uang masif menandai fase kemunduran sebuah kekuatan ekonomi dominan.
Siklus Utang Global dan Akhir Dominasi Kekuatan Ekonomi
Ray Dalio menjelaskan kondisi ini sebagai “Big Cycle”, yakni siklus panjang ketika negara hegemon runtuh akibat akumulasi utang berlebihan.
Baca Juga: MSCI Warning Indonesia, IHSG Melemah, Beban Bunga Utang 26 Persen Tekan Kepercayaan Pasar
Ia menilai pemerintah Amerika Serikat terjebak pada pilihan sulit antara mencetak uang demi membayar bunga utang atau membiarkan krisis memburuk.
“Keduanya berujung pada penurunan nilai mata uang,” ujar Dalio dalam esai resminya di situs Bridgewater Associates.
Secara historis, Dalio menilai pola ini berulang pada imperium besar, termasuk Belanda dan Inggris, sebelum kehilangan dominasi global.
Utang pemerintah AS tercatat meningkat hampir empat kali lipat sejak krisis keuangan 2008, menurut data Departemen Keuangan AS.
Situasi ini mempersempit ruang kebijakan fiskal dan meningkatkan risiko ketidakstabilan sistemik global.
Artikel Terkait
Pengunduran Diri Dirut Bursa Efek Indonesia Usai IHSG Turun 8 Persen dan Sorotan Keras Dari MSCI
Sejumlah Pimpinan OJK Mundur, 3 Pejabat Puncak Tegaskan Tanggung Jawab Moral Jaga Stabilitas Keuangan
IHSG Tertekan Aksi Jual Asing, Pemerintah Soroti Lambatnya Respons Terhadap Masukan MSCI
MSCI Beri Peringatan, Status Emerging Market Terancam Turun oleh Transparansi dan Regulasi
Dugaan Manipulasi Saham Gorengan Bareskrim Bersama OJK dan BEI Dalami IHSG Terkoreksi Hingga 2 Persen
Penyidikan Sawit 2015–2024 Berlanjut, Kejaksaan Agung Dalami Dokumen Dari Rumah Siti Nurbaya
PPATK Ungkap Dana Tambang Emas Ilegal Rp992 Triliun dalam 3 Tahun, Ancaman Ekonomi Nasional
26 Juta Hektar Hutan Alam Dalam Risiko, WALHI Nilai Izin Resmi Masih Buka Celah Kerusakan Ekosistem
Red Notice Interpol Jadi Babak Baru Kasus Korupsi Migas Pertamina Kerugian Negara Rp285 Triliun
Danantara Tegaskan Nol Agenda Perombakan Direksi Himbara Meski Isu Politik Menguat Akhir Januari 2026