• Sabtu, 18 April 2026

Ketika Utang Amerika Serikat Membengkak 38 Triliun Dolar AS, Ray Dalio Soroti Ancaman Global

Photo Author
Tim 24 Jam News, Finance 24 Jam
- Senin, 2 Februari 2026 | 20:09 WIB
Ray Dalio, Founder Bridgewater Associates, memperingatkan lonjakan utang Amerika Serikat sebagai risiko sistemik ekonomi global.  (Facebook.com @Ray Dalio)
Ray Dalio, Founder Bridgewater Associates, memperingatkan lonjakan utang Amerika Serikat sebagai risiko sistemik ekonomi global. (Facebook.com @Ray Dalio)

FINANCE 24 JAM - Apakah pembengkakan utang Amerika Serikat menjadi sinyal runtuhnya tatanan moneter global yang telah menopang ekonomi dunia selama puluhan tahun terakhir?

Jika Dolar AS kehilangan dominasinya, sejauh mana dampaknya terhadap stabilitas keuangan global dan ketahanan ekonomi negara berkembang seperti Indonesia?

Utang Amerika Serikat yang menembus sekitar 38 triliun Dolar AS kembali menjadi sorotan setelah Ray Dalio menyebutnya sebagai fase akhir siklus ekonomi global.

Baca Juga: Rosan Roeslani Bantah Isu Ganti Direksi Empat Bank BUMN, Soroti Stabilitas Perbankan Nasional

Dalio adalah pendiri Bridgewater Associates, salah satu pengelola dana lindung nilai terbesar dunia, yang dikenal konsisten mengkaji pola krisis lintas abad.

Menurut Dalio, lonjakan utang, defisit fiskal kronis, dan pencetakan uang masif menandai fase kemunduran sebuah kekuatan ekonomi dominan.

Siklus Utang Global dan Akhir Dominasi Kekuatan Ekonomi

Ray Dalio menjelaskan kondisi ini sebagai “Big Cycle”, yakni siklus panjang ketika negara hegemon runtuh akibat akumulasi utang berlebihan.

Baca Juga: MSCI Warning Indonesia, IHSG Melemah, Beban Bunga Utang 26 Persen Tekan Kepercayaan Pasar

Ia menilai pemerintah Amerika Serikat terjebak pada pilihan sulit antara mencetak uang demi membayar bunga utang atau membiarkan krisis memburuk.

“Keduanya berujung pada penurunan nilai mata uang,” ujar Dalio dalam esai resminya di situs Bridgewater Associates.

Secara historis, Dalio menilai pola ini berulang pada imperium besar, termasuk Belanda dan Inggris, sebelum kehilangan dominasi global.

Baca Juga: Red Notice Interpol Atas Riza Chalid Terbit, Polri Kejar Tersangka Korupsi Migas Bernilai Rp285 Triliun

Utang pemerintah AS tercatat meningkat hampir empat kali lipat sejak krisis keuangan 2008, menurut data Departemen Keuangan AS.

Situasi ini mempersempit ruang kebijakan fiskal dan meningkatkan risiko ketidakstabilan sistemik global.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X