FINANCE 24 JAM - Apakah impor 105 ribu pick-up dari India solusi cepat kebutuhan logistik nasional atau justru ancaman bagi industri otomotif Indonesia?
Mengapa ketika pemerintah mendorong industrialisasi dan TKDN, kebijakan impor besar justru muncul dan memicu pertanyaan soal arah strategi ekonomi nasional?
Rencana impor 105 ribu kendaraan niaga pick-up secara utuh atau Completely Built Up (CBU) dari India menuai kritik serius dari kalangan akademisi ekonomi karena dinilai berpotensi melemahkan industri nasional.
Baca Juga: Kasus Penyelundupan Timah Bangka Selatan Terungkap, Polisi Telusuri Jaringan Ekspor Ilegal
Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, menilai kebijakan tersebut mencerminkan ketidaksinkronan kepemimpinan ekonomi dan arah industrialisasi Indonesia yang selama ini dibangun melalui investasi manufaktur.
Menurut Didik, kebijakan impor besar berisiko menjadi bentuk deindustrialisasi terselubung yang bertentangan dengan agenda hilirisasi dan penguatan produksi domestik.
Risiko Deindustrialisasi di Tengah Agenda Industrialisasi Nasional Pemerintah
Didik J Rachbini menyatakan impor kendaraan niaga dalam jumlah besar menunjukkan kebijakan ekonomi yang berorientasi jangka pendek namun berpotensi merusak struktur industri nasional.
Ia menjelaskan industri otomotif Indonesia telah berkembang selama dua dekade sebagai basis produksi regional dan eksportir global dengan investasi besar dari berbagai korporasi manufaktur.
Menurutnya, ketika pasar domestik dibuka melalui impor masif, utilisasi pabrik dalam negeri berisiko turun sehingga produksi nasional melemah dan rantai pasok industri terganggu.
Tekanan Neraca Perdagangan fan Risiko Ketergantungan Produk Impor
Didik menilai kebijakan impor pick-up akan memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan sekaligus memperburuk neraca pembayaran Indonesia dalam jangka menengah.
Ia mengingatkan Indonesia saat ini telah mengekspor lebih dari 518 ribu unit kendaraan bermotor ke berbagai negara sehingga strategi ekspor otomotif seharusnya diperkuat, bukan dilemahkan.
Menurutnya, negara yang sedang membangun posisi sebagai pusat produksi otomotif regional dapat berubah menjadi pasar konsumsi jika impor kendaraan terus diperbesar.
Artikel Terkait
Purbaya Desak Bersihkan Saham Gorengan BEI Demi Lindungi Investor Muda dan Stabilitas Pasar Modal
Mengapa Uni Emirat Arab Jadi Mitra Strategis Elon Musk dalam Kembangkan Teknologi Masa Depan
Bahlil Ungkap 3 Jalur Investasi Tambang untuk AS, Hilirisasi Mineral Tetap Jadi Syarat Utama Investasi
Di Balik Pembelian 50 Pesawat Boeing, ni Arah Baru Kebijakan Ekonomi Indonesia Bersama AS
Agrinas Pilih Pikap India untuk Logistik Desa, Efisiensi Biaya Atau Tantangan Bagi Produsen Otomotif
Tambang Emas Pani Masuk Fase Produksi Komersial, Momentum Pertumbuhan Korporasi Tambang Modern
BEI Ungkap 8 Korporasi Masuk Pipeline IPO, Mengapa Hingga Februari Belum Ada Pencatatan Saham Baru
PPATK Bongkar Transaksi Mencurigakan, Polri Perluas Penyidikan TPPU Tambang Ilegal Lintas Wilayah
Biaya Perbankan Syariah Jadi Sorotan, Isu Utama Bukan Mahal Tetapi Keadilan Sistem Keuangan
KPK Ingatkan Risiko Tambang Rakyat Saat ANTAM Jadi Pembeli Hasil Tambang, Transparansi Jadi Kunci