• Sabtu, 18 April 2026

Industri Otomotif Indonesia Jadi Pasar, Kritik Makin Menguat Atas Rencana Impor Pick Up Dari India

Photo Author
Tim 24 Jam News, Finance 24 Jam
- Selasa, 24 Februari 2026 | 19:10 WIB
Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini. Kawasan industri manufaktur otomotif menjadi latar penting perdebatan kebijakan ekonomi terkait rencana impor kendaraan niaga dari India. (Dok. Kreasi Dola AI)
Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini. Kawasan industri manufaktur otomotif menjadi latar penting perdebatan kebijakan ekonomi terkait rencana impor kendaraan niaga dari India. (Dok. Kreasi Dola AI)

FINANCE 24 JAM - Apakah impor 105 ribu pick-up dari India solusi cepat kebutuhan logistik nasional atau justru ancaman bagi industri otomotif Indonesia?

Mengapa ketika pemerintah mendorong industrialisasi dan TKDN, kebijakan impor besar justru muncul dan memicu pertanyaan soal arah strategi ekonomi nasional?

Rencana impor 105 ribu kendaraan niaga pick-up secara utuh atau Completely Built Up (CBU) dari India menuai kritik serius dari kalangan akademisi ekonomi karena dinilai berpotensi melemahkan industri nasional.

Baca Juga: Kasus Penyelundupan Timah Bangka Selatan Terungkap, Polisi Telusuri Jaringan Ekspor Ilegal

Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, menilai kebijakan tersebut mencerminkan ketidaksinkronan kepemimpinan ekonomi dan arah industrialisasi Indonesia yang selama ini dibangun melalui investasi manufaktur.

Menurut Didik, kebijakan impor besar berisiko menjadi bentuk deindustrialisasi terselubung yang bertentangan dengan agenda hilirisasi dan penguatan produksi domestik.

Risiko Deindustrialisasi di Tengah Agenda Industrialisasi Nasional Pemerintah

Didik J Rachbini menyatakan impor kendaraan niaga dalam jumlah besar menunjukkan kebijakan ekonomi yang berorientasi jangka pendek namun berpotensi merusak struktur industri nasional.

Baca Juga: APBN 2026 Tunjukkan Kinerja Solid, Pendapatan Negara Naik dan Belanja Pemerintah Meningkat Signifikan

Ia menjelaskan industri otomotif Indonesia telah berkembang selama dua dekade sebagai basis produksi regional dan eksportir global dengan investasi besar dari berbagai korporasi manufaktur.

Menurutnya, ketika pasar domestik dibuka melalui impor masif, utilisasi pabrik dalam negeri berisiko turun sehingga produksi nasional melemah dan rantai pasok industri terganggu.

Tekanan Neraca Perdagangan fan Risiko Ketergantungan Produk Impor

Didik menilai kebijakan impor pick-up akan memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan sekaligus memperburuk neraca pembayaran Indonesia dalam jangka menengah.

Baca Juga: Rahasia Finansial Para Miliarder Terungkap, Hidup Hemat Jadi Kunci Pertumbuhan Kekayaan Berkelanjutan

Ia mengingatkan Indonesia saat ini telah mengekspor lebih dari 518 ribu unit kendaraan bermotor ke berbagai negara sehingga strategi ekspor otomotif seharusnya diperkuat, bukan dilemahkan.

Menurutnya, negara yang sedang membangun posisi sebagai pusat produksi otomotif regional dapat berubah menjadi pasar konsumsi jika impor kendaraan terus diperbesar.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X