FINANCE 24 JAM - Apakah suntikan likuiditas Rp100 triliun ke perbankan benar-benar mampu menggerakkan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global?
Ataukah dana besar itu justru berisiko hanya mengendap di sistem keuangan jika dunia usaha masih menahan ekspansi bisnisnya?
Strategi Pemerintah Menambah Likuiditas Perbankan Dorong Kredit Ekonomi Nasional
Rencana pemerintah menambah likuiditas Rp100 triliun ke sektor perbankan dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan global.
Baca Juga: Khalid Basalamah Bandingkan Kebebasan Azan Indonesia dengan Negara Lain Saat Bahas Soal Kritik
Kebijakan ini disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa yang menilai tambahan likuiditas penting agar bank memiliki ruang lebih luas dalam menyalurkan kredit ke sektor produktif.
“Penambahan likuiditas ini dimaksudkan untuk menjaga kemampuan perbankan menyalurkan pembiayaan ke sektor riil agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga,” ujar Purbaya.
Kebijakan tersebut muncul ketika sejumlah negara masih menghadapi tekanan inflasi dan tren suku bunga tinggi yang memengaruhi biaya dana lembaga keuangan.
Baca Juga: Kasus Skincare Richard Lee Masuki Babak Baru Setelah Penahanan Oleh Penyidik Polda Metro Jaya
Dalam konteks domestik, likuiditas yang kuat di perbankan dianggap penting untuk menjaga stabilitas kredit, terutama bagi pelaku usaha yang membutuhkan pembiayaan ekspansi.
Tambahan dana pemerintah juga diharapkan menjaga daya tahan sektor keuangan sekaligus memastikan aktivitas ekonomi domestik tetap bergerak.
Kebijakan Likuiditas Perbankan Sebagai Bantalan Saat Tren Suku Bunga Tinggi
Di tengah tren suku bunga global yang relatif tinggi, perbankan menghadapi kenaikan biaya dana yang berpotensi menekan margin keuntungan.
Baca Juga: Dasco Menilai Persatuan Menjadi Kunci Keberhasilan Pemerintahan Prabowo Jalankan Agenda Pembangunan
Tambahan likuiditas dari pemerintah berfungsi sebagai bantalan agar bank tidak perlu menaikkan suku bunga simpanan secara agresif.
Langkah tersebut juga membantu menjaga suku bunga kredit tetap kompetitif sehingga pelaku usaha masih memiliki ruang ekspansi.
Artikel Terkait
Danantara Meninjau Seluruh BUMN, Langkah Strategis Perkuat Tata Kelola dan Nilai Ekonomi Negara
Kasus Tambang Emas Tumpang Pitu Banyuwangi Kembali Ramai Setelah Penyelidikan KPK Dimulai Lagi
Pendapatan Negara Tumbuh Namun Belanja Lebih Cepat, APBN Februari 2026 Alami Defisit Rp135,7 Triliun
Ketahanan Energi Diperkuat, Pertamina Jaga Stok BBM dan LPG Hingga Lebaran Idulfitri 2026
Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, Simbol Kedaulatan Sunda yang Simpan Rahasia Tambang Emas
IMF Nilai Ketegangan Timur Tengah Bisa Ganggu Stabilitas Ekonomi Global dan Keamanan Energi Asia
Investigasi Korupsi Pajak dan Bea Cukai Menguat, KPK Soroti Potensi Kebocoran Penerimaan Negara Besar
Ilmuwan Temukan Sinyal Bahaya Lingkungan Dari Lonjakan Perak di Kawasan Laut China Selatan
Analisis Kebijakan Fiskal: Penerimaan Negara Melemah, Beban Bunga Utang APBN Semakin Membesar
Penahanan Richard Lee Jadi Sorotan Publik, Kasus Skincare, Bermula dari Laporan Dokter Detektif