• Sabtu, 18 April 2026

Harga Gula Dan Minyak Nabati Melonjak, FAO Soroti Risiko Inflasi Pangan Global Akibat Konflik Timur Tengah

Photo Author
Tim 24 Jam News, Finance 24 Jam
- Sabtu, 4 April 2026 | 21:00 WIB
Petani melakukan pemupukan terbatas akibat mahalnya pupuk impor yang dipicu gangguan pasokan bahan baku dari Timur Tengah. (Dok. Kreasi Gemini AI)
Petani melakukan pemupukan terbatas akibat mahalnya pupuk impor yang dipicu gangguan pasokan bahan baku dari Timur Tengah. (Dok. Kreasi Gemini AI)

FINANCE 24 JAM - Seberapa jauh konflik bersenjata dapat memengaruhi harga bahan pokok yang kita beli setiap minggu?

Apakah dunia sedang menuju krisis pangan baru akibat efek berantai dari energi, pupuk, dan logistik global?

Ketegangan geopolitik Timur Tengah kini menjadi perhatian pelaku ekonomi global karena dampaknya mulai terlihat pada harga pangan dan biaya produksi pertanian.

Baca Juga: Di Tengah Sanksi Barat, Peluang Indonesia Beli Minyak Rusia Jadi Sorotan Strategi Energi Nasional Tahun Ini

FAO melaporkan kenaikan indeks harga pangan global 2,4 persen pada Maret 2026 yang memperpanjang tren kenaikan dua bulan terakhir.

Kondisi tersebut dipicu kenaikan harga energi, gangguan logistik, dan potensi krisis pupuk yang berpengaruh pada produksi pangan.

Efek Domino Energi Global Terhadap Biaya Produksi dan Distribusi Pangan

Lonjakan harga minyak akibat ketegangan regional meningkatkan biaya distribusi pangan lintas negara secara signifikan.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Pemerintah Pastikan Harga BBM Nasional Tetap Stabil Tahun Ini

Kenaikan biaya bahan bakar meningkatkan ongkos logistik dari pelabuhan hingga distribusi ritel komoditas pangan.

Dampak ini menunjukkan sektor energi masih menjadi faktor dominan pembentuk harga pangan global menurut laporan FAO.

Perubahan Strategi Produksi Pertanian Akibat Tekanan Biaya Input Global

Kenaikan harga pupuk menyebabkan petani mempertimbangkan efisiensi penggunaan nutrisi untuk menjaga margin keuntungan usaha pertanian.

Baca Juga: Prabowo Pulang dari Asia Timur Bawa Komitmen Investasi Besar, Ini Sektor Prioritas yang Akan Dikembangkan

Sebagian petani dilaporkan beralih ke tanaman yang membutuhkan pupuk lebih sedikit demi mengurangi risiko kerugian.

Langkah efisiensi ini berpotensi menurunkan produktivitas jika berlangsung lama menurut analisis risiko ekonomi FAO.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X