Menurut Anthony, aliran keluar modal tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah dan stabilitas pasar keuangan nasional.
Risiko ini semakin besar di tengah ketidakpastian global yang meningkat akibat konflik geopolitik dan gangguan jalur perdagangan energi dunia.
Baca Juga: 2 Kapal Minyak Indonesia Bersandar Di Hormuz, Pemerintah Siapkan Skenario Pasokan Energi Alternatif
Gejolak Energi Global Berpotensi Memperburuk Ketahanan Fiskal Indonesia Kedepan
Situasi global saat ini juga menghadirkan tekanan tambahan terhadap perekonomian nasional, terutama dari sektor energi.
Penutupan de facto Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah mengganggu jalur perdagangan energi dunia yang menyumbang sekitar 20 persen perdagangan minyak global.
Bagi Indonesia sebagai negara net importer energi, lonjakan harga minyak global berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dan tekanan terhadap neraca perdagangan.
Anthony Budiawan menilai kenaikan harga energi juga dapat mendorong inflasi dan meningkatkan risiko pengetatan kebijakan moneter.
Menurut Anthony, kombinasi tekanan fiskal domestik dan ketidakpastian global berpotensi meningkatkan kerentanan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah.****