• Sabtu, 18 April 2026

Bank Syariah Dinilai Kurang Efisien, OJK Ungkap Penyebab Struktur Biaya Tinggi Keuangan Syariah

Photo Author
Tim 24 Jam News, Finance 24 Jam
- Minggu, 22 Februari 2026 | 11:00 WIB
Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae. Ilustrasi aktivitas layanan bank syariah di Indonesia yang kini menjadi sorotan pemerintah terkait efisiensi biaya dan daya saing industri keuangan nasional. (Dok. Kreasi Dola AI)
Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae. Ilustrasi aktivitas layanan bank syariah di Indonesia yang kini menjadi sorotan pemerintah terkait efisiensi biaya dan daya saing industri keuangan nasional. (Dok. Kreasi Dola AI)

FINANCE 24 JAM - Mengapa pembiayaan syariah sering terasa lebih mahal bagi masyarakat kelas produktif?

Apakah sistem perbankan syariah Indonesia sedang menghadapi krisis efisiensi atau justru fase pertumbuhan menuju model ekonomi baru?

Biaya Layanan Bank Syariah Disorot Karena Dampaknya ke Nasabah Produktif

Perdebatan biaya layanan perbankan syariah menjadi perhatian publik setelah Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut layanan syariah relatif lebih mahal.

Baca Juga: Korporasi Global Puji Kepastian Hukum dan Konsistensi Kebijakan Indonesia dalam Pertemuan Strategis

Kritik tersebut penting karena kelompok usia produktif merupakan pengguna utama pembiayaan rumah, kendaraan, serta modal usaha berbasis syariah.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae menegaskan regulator memahami keluhan masyarakat dan pelaku usaha.

Ia menyebut biaya tinggi bukan semata masalah konsep syariah, melainkan struktur industri yang masih berkembang dibanding bank konvensional.

Baca Juga: Mendes Yandri Susanto Sebut Kekayaan Korporasi Ritel Terlalu Besar, Perlu Penguatan Ekonomi Kopdes

Ketergantungan Dana Deposito Membuat Harga Pembiayaan Kurang Kompetitif Nasional

Dian Ediana Rae menjelaskan bank syariah masih mengandalkan dana deposito dengan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan sumber dana murah perbankan konvensional.

Keterbatasan akses likuiditas membuat biaya pembiayaan kepada nasabah ikut meningkat sehingga memengaruhi harga kredit kepemilikan rumah dan pembiayaan usaha.

Menurut data OJK, total aset perbankan syariah mencapai lebih dari Rp900 triliun pada 2025, namun skala tersebut masih jauh di bawah bank konvensional besar.

Baca Juga: Indonesia Buka Ekspor ke Pasar Amerika Serikat dengan Tarif Nol Persen untuk 1.819 Pos Produk

Kondisi ini menyebabkan efisiensi operasional belum optimal karena biaya teknologi digital, kepatuhan syariah, serta ekspansi jaringan masih tinggi.

Kritik Pemerintah Menyoroti Efisiensi Model Bisnis dan Inovasi Produk

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan praktik syariah seharusnya menghadirkan keadilan ekonomi, bukan sekadar perubahan istilah dari sistem bunga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X