FINANCE 24 JAM - Apakah kebijakan pengetatan produksi batu bara 2026 justru menguji daya tahan industri energi nasional di tengah ketidakpastian global?
Bagaimana dampak pemangkasan RKAB terhadap tenaga kerja, penerimaan negara, dan stabilitas kontrak ekspor batu bara Indonesia?
Kebijakan RKAB Batu Bara Picu Kekhawatiran Industri Tambang Nasional
Audiensi antara Kementerian ESDM dan pelaku industri membahas pemangkasan RKAB 2026 yang memicu kekhawatiran luas di sektor pertambangan batu bara.
Baca Juga: BUMN Disiapkan Kelola SDA, PNBP Turun 19,7 Persen Picu Usulan Pembatasan Izin SDA Oleh Swasta
Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) menyebut pemotongan produksi mencapai 40 hingga 70 persen dari rencana awal korporasi tambang.
Pelaku industri menilai penyesuaian ini berpotensi mengganggu perencanaan bisnis, investasi, serta kesinambungan operasi di wilayah tambang utama.
Pertimbangan PNBP Jadi Faktor Penentu Penyesuaian Produksi Tambang
Direktur Jenderal Minerba Tri Winarno menjelaskan kebijakan penyesuaian RKAB mempertimbangkan kontribusi fiskal dan kepatuhan korporasi terhadap negara.
Baca Juga: Data Hilirisasi 2025 Di DPR, Sulteng Jadi Pusat Episentrum Investasi Industri Pengolahan Strategis
Tri Winarno menyatakan besaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menjadi indikator utama dalam menentukan proporsi pemotongan produksi setiap korporasi.
Menurutnya, pendekatan ini diharapkan menjaga keseimbangan antara penerimaan negara dan keberlanjutan industri energi nasional.
Dampak Potensial Terhadap PHK Dan Stabilitas Kontrak Ekspor
Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia mengingatkan produksi di bawah skala ekonomis dapat menekan arus kas serta kemampuan pembayaran utang korporasi.
Baca Juga: OJK Serahkan Dua Pengurus Investree ke Kejaksaan, Kasus Dana Ilegal 2017–2023 Tahap Penuntutan
Ia menambahkan potensi PHK massal dapat terjadi pada sektor tambang, kontraktor, hingga logistik bila produksi menurun drastis.
APBI juga menyoroti risiko gagal memenuhi kontrak ekspor dan kewajiban pasokan domestik yang berpengaruh pada reputasi industri nasional.
Artikel Terkait
Data BPS Ungkap Inflasi Pangan Turun Tajam Dari 6,21 Persen Akhir 2025 ke 1,14 Persen Januari 2026
Target Lifting Migas 2026 Dipercepat Melalui CEO Forum SKK Migas Bersama Korporasi Global
Fakta.Tambang Emas Tumpang Pitu Terungkap, Dari 2012 Hingga Perubahan Saham Korporasi Tambang
Harga Ekspor CPO Dipangkas 50 Persen Pemerintah Kejar Transfer Pricing Korporasi Besar Nasional
Ketahanan Energi Jadi Prioritas, Prabowo Tingkatkan Cadangan BBM Nasional Menjadi Tiga Bulan
Sektor Manufaktur Tumbuh 5,4 Persen Sepanjang 2025 Jadi Motor Utama Perekonomian Nasional Menurut Data Resmi BPS
RKAB 2026 Batasi Produksi Batubara, Stabilitas Harga Berhadapan dengan Ancaman PHK Massal
Risiko Turun Kelas Emerging Market Bayangi Indonesia Usai MSCI Soroti Transparansi Free Float Saham
OJK Serahkan Dua Pengurus Investree ke Kejaksaan, Kasus Dana Ilegal 2017–2023 Tahap Penuntutan
15 Komoditas Hilirisasi Resmi Diluncurkan, Nikel Jadi Andalan untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen