FINANCE 24 JAM - Mengapa keputusan MSCI memicu kepanikan pasar hingga IHSG anjlok tajam dalam satu hari perdagangan, meski dinilai bukan ancaman fundamental ekonomi?
Sejauh mana kekuatan investor domestik mampu menahan tekanan global di tengah pembekuan indeks saham Indonesia hingga 2026?
Keputusan MSCI Picu Volatilitas Tajam Pasar Saham Indonesia
Keputusan MSCI (Morgan Stanley Capital Internasional) membekukan saham Indonesia langsung memicu tekanan jual besar di pasar saham domestik.
Baca Juga: Sidak Bapanas Temukan MinyaKita Offside Rp2.300, Pemerintah Siapkan Langkah Hukum Terukur Nasional
IHSG tercatat melemah hampir 7 persen pada hari pengumuman akibat meningkatnya aksi lepas saham.
Tekanan tersebut terutama berasal dari kekhawatiran investor asing terhadap penyesuaian metodologi free float.
Danantara Menilai Reaksi Pasar Bersifat Sementara
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menyebut reaksi pasar tersebut bersifat emosional dan jangka pendek.
Baca Juga: Belanja Negara Dipertahankan, Defisit APBN 2025 Meningkat Jadi 2,92 Persen PDB Nasional
Ia menegaskan keputusan MSCI tidak mengubah fundamental ekonomi maupun prospek pertumbuhan Indonesia.
Menurut Pandu, evaluasi global tersebut justru memberi arah pembenahan tata kelola pasar modal.
Isu Free Float Menjadi Fokus Evaluasi Global MSCI
MSCI menyoroti akurasi porsi saham publik sebagai komponen utama indeks global.
Baca Juga: Energi Hijau Berbasis Pertanian Diperkuat, Mentan Amran Masuk Dewan Energi Nasional Awal 2026
Konsultasi pasar dilakukan setelah muncul kekhawatiran atas praktik perdagangan yang memengaruhi likuiditas riil.
Hasilnya, MSCI menunda seluruh penyesuaian indeks saham Indonesia hingga Februari 2026.