• Sabtu, 18 April 2026

Data BNPB dan BMKG Ungkap Akar Bencana Sumatera: Hujan Ekstrem Bertemu Deforestasi 157 Ribu Hektare

Photo Author
Tim 24 Jam News, Finance 24 Jam
- Jumat, 9 Januari 2026 | 16:25 WIB
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan taklimat awal tahun kepada Kabinet Merah Putih, menegaskan swasembada pangan dan energi sebagai target mutlak 2026. (Facebook.com @Prabowo Subianto)
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan taklimat awal tahun kepada Kabinet Merah Putih, menegaskan swasembada pangan dan energi sebagai target mutlak 2026. (Facebook.com @Prabowo Subianto)

FINACE 24 JAM  - Apakah banjir dan longsor mematikan di Sumatera semata akibat hujan ekstrem, atau ada kerusakan lingkungan yang selama ini diabaikan?

Ketika ratusan ribu warga mengungsi, seberapa besar peran hilangnya hutan dalam memperparah tragedi yang berulang setiap musim hujan?

Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur Mencapai Skala Nasional

Banjir dan longsor yang terjadi sejak akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026 melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Pulau Jawa.

Baca Juga: Kartu Debit Visa Bank Jakarta Resmi Meluncur, Nasabah Kini Bisa Transaksi Global di Lebih Dari 200 Negara

Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat hingga 4 Januari 2026 sebanyak 1.117 orang meninggal dunia dan 148 korban masih dinyatakan hilang.

Sebanyak 242 ribu penduduk mengungsi, sementara 178.479 rumah mengalami kerusakan ringan hingga berat akibat bencana tersebut.

Kepala BNPB Suharyanto menyatakan tingginya intensitas hujan menjadi pemicu utama rangkaian bencana hidrometeorologi tersebut.

Baca Juga: Miliarder Elon Musk Tembus Rp11.620 Triliun, Kekayaannya Lampaui PDB Belgia dan Swedia

Namun, BNPB menegaskan bahwa tingkat kerusakan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan tata ruang di wilayah terdampak.

Menurutnya, bencana tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh faktor alam dan aktivitas manusia secara bersamaan.

Persepsi Publik Menyalahkan Kerusakan Lingkungan Hulu

Analisis Pusat Riset Big Data Continuum INDEF mencatat 576.176 percakapan publik di Twitter/X dan YouTube selama 23–30 November 2025.

Baca Juga: Kemenhut Klarifikasi Isu Penggeledahan: Kejagung Lakukan Pencocokan Data Perubahan Hutan Lindung

Mayoritas percakapan menunjukkan sentimen negatif dengan narasi utama menyebut deforestasi sebagai penyebab utama banjir bandang.

Publik menilai hutan yang rusak menghilangkan fungsi penahan air dan meningkatkan risiko longsor di kawasan hilir.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X