FINANCE 24 JAM - Mengapa pasar saham bereaksi berlawanan saat merger Rio Tinto dan Glencore dikonfirmasi ke publik?
Seberapa besar risiko dan peluang investor dari potensi penggabungan dua raksasa tambang dunia ini?
Konfirmasi Merger Picu Volatilitas Saham Global
Rio Tinto dan Glencore mengonfirmasi diskusi awal merger melalui keterbukaan informasi bursa pada Januari 2026.
Baca Juga: MNC Energy Gandeng Astra Garap Tambang Batu Bara Sumsel, Target Awal Produksi 3 Juta Ton Per Tahun
Pernyataan tersebut langsung memicu volatilitas saham di pasar Australia, London, dan Amerika Serikat.
Investor merespons cepat potensi dampak keuangan dan operasional kesepakatan.
Saham Rio Tinto tercatat melemah di Bursa Sydney setelah pengumuman tersebut.
Baca Juga: Transaksi Tunai dan Under Invoicing, Modus Korporasi Baja Tiongkok Hindari Pajak di Indonesia
Pelaku pasar menilai kompleksitas integrasi dan risiko portofolio batu bara sebagai faktor utama.
Sebaliknya, saham Glencore menguat signifikan di London dan New York.
Analis menilai pergerakan saham mencerminkan perbedaan ekspektasi risiko antara kedua korporasi.
Baca Juga: Negara Amankan 70.000 Ton Batu Bara Ilegal di Kaltim, Stockpile PETI Disiapkan untuk Lelang Negara
Investor Glencore melihat peluang premi akuisisi dalam skema merger saham penuh.
Sementara investor Rio Tinto bersikap lebih berhati-hati.
Artikel Terkait
Donald Trump Batalkan Transaksi Chip Rampung 2024, Korporasi Terkait Tiongkok Kena Divestasi
Ekspor Bauksit Disorot, Kejati Kalimantan Barat Lanjutkan Penggeledahan KSOP Ketapang
70.000 Ton Batu Bara PETI di Kaltim Diamankan, Pemerintah Siapkan Proses Lelang Aset Negara
Wacana Amerika Beli Greenland Lagi: 4 Isu Kunci Soal Militer, Sumber Daya, dan Kedaulatan
Presiden Donald Trump Pangkas Keterlibatan Global, AS Resmi Keluar dari 66 Organisasi Dunia
Defisit APBD 2026 Dipangkas, Pemda Diminta Menkeu Purbaya Yudhi Fokus Belanja Produktif
Rp11.620 Triliun di Awal 2026, Miliarder Teknologi Elon Musk Cetak Rekor Baru Kapitalisme Global
BBTN Rampungkan Spin-off UUS Rp5,56 Triliun, Kontribusi Laba 23,51 Persen Perkuat Stabilitas Keuangan
Menkeu Purbaya Tegaskan Penertiban Korporasi Baja Tiongkok Diduga Rugikan Negara Triliunan Rupiah
Data BNPB dan BMKG Ungkap Akar Bencana Sumatera: Hujan Ekstrem Bertemu Deforestasi 157 Ribu Hektare